Membangun Optimisme bersama Anies Baswedan

Mendidik adalah tugas moral orang terdidik

Sepotong kalimat dari seorang Anies Baswedan ini menjadi bahan renungan siapapun yang hadir dalam buka bersama di markas besar AFS Nasional jalan Limau, 16 Agustus 2011. Adalah sebuah kejutan, sekaligus mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya untuk dapat bertatap muka dengan beliau secara langsung. Baru sehari sebelumnya saya membaca opini beliau dalam halaman Kompas yang berjudul “Janji Kemerdekaan” dan beruntung bagi saya bahwa ditengah segala kesibukannya, beliau masih menyempatkan diri untuk hadir dan berbagi pendapat bersama kami. Sepotong fakta tidak penting adalah bahwa selain beliau mengikuti program yang sama dengan saya, AFS, beliau juga mendapatkan penempatan di Wisconsin, sama seperti saya!

Beliau mengawali sambutan dengan menyampaikan anekdot mengenai persepsi akan usia. Dalam lingkup pergaulan AFS, istilah “kakak” dipakai untuk memanggil seseorang yang lebih tua, seberapapun tua usianya. Kak Anies menghubungkannya dengan pola pikir. Orang berjiwa tua apabila dia berpikir tentang masa lalunya, dan mengenang apa yang telah dia lalui. Sedangkan orang dapat dikatakan berjiwa muda apabila dia berpikir tentang masa depan dan apa yang bisa dia lakukan di sisa hidupnya.

Seperti biasa, kak Anies selalu menyampaikan optimismenya terhadap bangsa ini. Orang Indonesia diibaratkan sebagai normal student di sekolah yang bagus. Negara-negara lain perlu bekerja keras untuk mencapai kemakmuran, sementara kita, negara lain pun mengakui bahwa kita kaya, hanya kurang dapat memanfaatkan hasil kekayaannya. Kak Anies sempat memaparkan fakta mengenai sedikitnya presentase anak SD yang melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Pendidikan di negara ini tidak merata. Kebanyakan orang hanya bisa menyalahkan pemerintah, namun malas bertindak.

Untuk memajukan pendidikan, menurut Kak Anies, kuncinya adalah we own the problem. Kita harus merasa bahwa setiap masalah di negara ini adalah masalah kita bersama, sehingga kita sebagai bangsa tergerak untuk maju bersama. Dalam situasi perang kemerdekaan dahulu, kita tidak akan merdeka apabila hanya mengandalkan pemerintah, karena tidak ada pemerintah pada saat itu. Surabaya pasti akan kalah pada pertempuran 10 November jika hanya mengandalkan pada Badan Keamanan Rakyat (BKR), namun pemuda Surabaya ikut merasa memiliki masalah ini dan terjun langsung pada peperangan, sehingga dengan kerja keras, mereka dapat mengibarkan bendera merah putih di Surabaya.

Beliau mengusulkan contoh-contoh sederhana dalam proses sharing pengalaman, atau transfer ilmu. Apabila kita memiliki pembantu, berilah edukasi padanya, ajarkan our way of thinking. Pembantu tersebut akan memiliki pemikiran yang jauh lebih terbuka daripada apabila dia tetap terisolasi di desanya. Pemikiran ini akan dibawa kepada keturunannya, yang menghasilkan generasi yang lebih baik. Cara lain adalah dengan memberi seeds of hope. Kita pergi ke SD/SMP terdekat, berikan mereka seeds of hope. Bukalah mata mereka akan peluang2 yang mereka dapat capai di masa depan. Pemerintahan saat ini mengajarkan keprihatinan, namun kita dapat memberikan harapan pada anak2 ini. Ini adalah salah satu alasan beliau membuat program Indonesia Mengajar, agar anak2 di daerah terbelakang tahu bahwa mereka memiliki peluang untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Saya suka pendekatan yang dilakukan oleh Kak Anies dalam mengutarakan opininya. Disaat semua orang menunjukkan perhatiannya terhadap permasalahan bangsa dengan mengkritik dan menyuarakan pesimisme, ada orang yang membangkitkan semangat orang2 dengan harapan dan kerja keras. “Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan”. Banyak orang berkata bahwa mengkritik merupakan salah satu bentuk formulasi masalah yang ditujukan untuk menghimpun opini membangun. Namun terkadang hal ini hanya berhenti pada keprihatinan dan pembentukan opini yang salah oleh sebagian pihak. Saya semakin mengagumi Kak Anies, yang selalu konsisten akan usahanya membangkitkan semangat bangsa ini untuk berjuang. Bukan seperti motivasi kosong yang dengan mudah dikatakan sembarang orang, Kak Anies selalu memberikan solusi sederhana yang mudah diterapkan, namun memberi efek yang permanen. Terus konsisten dalam perjuangannya Kak! Saat ini saya hanya bisa menulisnya dan menceritakan kepada teman-teman. Mudah-mudahan suatu saat saya akan menyebarkan virus optimisme yang sama seperti Kakak.


Nb: Beberapa link mengenai tulisan terbaru Kak Anies di Kompas:

“Peringatan bagi Pemimpin” – Dimuat dalam halaman nasional Kompas pada 25 Juli 2011. Mengenai kritik tentang pemerintah, dan apresiasi terhadap perjuangan rakyat kecil.

http://nasional.kompas.com/read/2011/07/25/03064679/peringatan-bagi-pemimpin

“Janji Kemerdekaan” – Dimuat dalam halaman opini Kompas pada 15 Oktober 2011. Tentang perenungan janji kemerdekaan.

http://www.facebook.com/notes/anies-baswedan/tulisan-opini-anies-baswedan-janji-kemerdekaan/234156599954667

Komentar