Tentang nasib dan pekerjaan


Pak Adi namanya. Kepala gudang di Cirebon. Beliau sangat ramah dan baik. Bahkan ketika saya menelponnya untuk mengutarakan niat saya mengunjungi gudangnya, kata pertama yang dia tanyakan adalah "Apa yang harus saya persiapkan?". Semua bayangan saya tentang orang gudang luntur ketika pertama kali bertemu dengannya. Jauh dari kesan kasar dan berotot, kepala gudang yang satu ini sama ramahnya dengan tetangga sebelah rumah saya. Beliau bahkan menawarkan untuk menjemput saya ke hotel. Bak seorang Tour Guide profesional, dia menjelaskan tentang Cirebon dalam perjalanan mengantarkan saya dari hotel ke Gudang. Saya sangat terkesan akan keramahannya.

Sehari bersama Pak Adi membuat saya mendapat banyak cerita tentang kisah pekerjaannya yang penuh lika liku. Beliau awalnya adalah admin dan staf gudang. Karena pekerjaannya bagus, beliau diangkat menjadi kepala gudang. Lalu beliau dinaikkan menjadi kepala bidang administrasi. Baru beberapa bulan, beliau mendapat tekanan disana sini, kemudian dianggap underperform, dan diturunkan jabatannya kembali menjadi kepala gudang di Cirebon. Tampaknya di jabatan barunya ini, dia mendapat banyak tekanan. Kepada saya beliau mengatakan "Saya ingin pindah balik ke kampung halaman. Biarlah menjadi admin seumur hidup, asalkan saya dekat dengan keluarga". Admin? Berarti dia terpaksa harus diturunkan lagi jabatan (dan gaji) nya. Saya bertemu dengan atasan beliau ketika saya mengunjungi gudang Bandung. Sang atasan pun menyesalkan keputusan Pak Adi "Beliau baik. Hanya kurang beruntung. Beliau menjabat di waktu dan tempat yang salah, sehingga mudah dijatuhkan oleh yang lain. Saya juga menyayangkan, mengapa beliau sampai harus turun jabatan atas kemauan sendiri".

Kisah Pak Adi ini membuat saya merenung. Bertahan di pekerjaan itu sulit. Sulit karena semakin tinggi jabatan kita, semakin besar tanggung jawab kita, semakin besar tekanan, dan makin banyak orang yang ingin merebut posisi kita. Belum lagi ditambahkan dengan keharusan untuk pindah keluar kota karena disanalah letak vacant position  berada. Itu berarti, adaptasi dengan cepat juga diperlukan.

Saya memiliki beberapa pengalaman dengan admin, operator pabrik, dan staf gudang karena urusan pekerjaan. Sering mereka bercerita tentang nasib mereka yang tak kunjung naik jabatan, padahal sudah puluhan tahun bekerja. Salah satu rekan kerja di kantor yang jalur karirnya termasuk cepat pernah bercerita, untuk mendapat posisi tinggi, tidak bisa kita hanya berdiam diri. Kita harus berani keluar dari zona nyaman kita. Kita harus berani pindah kota, pindah perusahaan, mengejar dimana jabatan kosong (yang lebih tinggi) itu berada. Kita harus cepat beradaptasi, harus pandai memimpin orang, dan harus tahan menghadapi tekanan. Meraih jabatan itu bukan nasib, tapi kita yang harus berusaha meraihnya. Kembali kepada admin, operator pabrik, dan staf gudang. Jika mereka hanya mengerjakan pekerjaan rutin sehari-hari (yang repetitif dan lingkupnya kecil), dengan hasil yang biasa-biasa saja, sementara banyak teman mereka yang bekerja lebih baik, bisakah Anda membayangkan siapa yang akan direkomendasikan bila terdapat lowongan jabatan? Bisakah Anda membayangkan jikalau sang operator yang hanya tahu rutinitas mereka, tiba2 disuruh  menjadi supervisor yang membawahi 10 orang dengan lingkup pekerjaan berbeda?

Seperti kata atasan saya: kuncinya dalam pekerjaan adalah understanding the business. Bagaimana kamu bisa mengerti tujuan perusahaan dan bagaimana meraihnya. Bagaimana kamu bisa memimpin anak buahmu untuk bersama-sama mencapai tujuan bersama. Bukan semata-mata mengerjakan tugas yang diberikan kepadamu.

"Going to work for a large company is like getting on a train. Are you going sixty miles an hour or is the train going sixty miles an hour and you're just sitting still? -- J. Paul Getty

Komentar