Belitung: 3 Hari untuk Selamanya - DAY 3

Kami memulai hari dengan menyantap Suto Belitung Mak Jannah. Sambil menunggu Suto dihidangkan, kami menyantap kopi susu hangat dan pisang goreng, kudapan yang pas untuk membuka pagi. Suto Belitung mirip seperti lontong sayur, sedikit bersantan, namun cukup ringan. Kami juga berkesempatan untuk bertemu dengan mak Jannah dan berfoto bareng J

Suto Belitung: Yummy!

Berfoto dengan pemilik warung

Alih-alih berkeliling kota seperti dua hari sebelumnya, hari ini tujuan kami pasti: Tanjung Kelayang. Rencananya seharian akan kami habiskan untuk mengunjungi pulau-pulau disebelah Barat Belitung. Di perjalanan, kami berhenti untuk membeli Nasi Kotak di Yapo Chai, karena di pulau tidak ada orang yang berjualan. Kami tidak menggunakan travel agent untuk island hopping kali ini. Namun Pak Abu, sang Mr-Know-It-All, berbaik hati menunjukkan kami tempat-tempat penyewaan alat snorkel, pelampung, serta menyewakan perahu untuk kami. Awalnya kami mengira Pak Abu akan stay di Pantai dan menunggu kami. Tapi ternyata beliau ikut kami berkeliling pulau, membawakan nasi kotak, menjaga barang, serta menjadi fotografer kami. Kami tanpa pak Abu hanyalah butiran debu #lebay.

Pulau yang pertama kami kunjungi adalah Pulau Pasir. Pulau ini sangat kecil dan hanya terdiri dari pasir. Jika air laut sedang pasang, pulau ini tidak nampak. Di daerah lain, pulau semacam ini disebut Pulau Gusung. Banyak bintang laut disekitar pulau ini, yang dapat dipegang dan dijadikan “property” foto.

Twinkle-twinkle little star

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lengkuas. Beberapa ratus meter sebelum pulau, kami bersnorkeling. Pemandangan lautnya sangat indah, meski daerah snorkelingnya tidak terlalu besar. Ikan-ikannya pun sangat banyak disini, mereka menyerbu kita saat kita membawa roti.

Sampailah kami di Pulau Lengkuas. Pulau ini terkenal karena Mercusuarnya. Sebelum menaiki Mercusuar, kami harus mencuci kaki di bak yang telah disediakan. Tidak ada lift disini, jadi kami harus menaiki tangga untuk mencapai puncak: lantai 18. Pemandangan dari atas sangatlah indah, penuh dengan warna hijau, biru, dan pasir putih. Ketika turun, kami bertemu dengan 2 orang tua yang meski baru saja menaiki tangga ke lantai 18, tetap ceriwis dan tidak tampak lelah. Sambil sedikit ngos-ngosan turun tangga, saya pun mengobrol dengan mereka. Ternyata salah satu dari mereka berumur 70 tahun! Dan mereka kemari dalam rangka survey untuk grup senam lansia yang akan berlibur bersama ke Belitung bulan depan. Belum habis rasa kagum saya, mereka pun bercerita betapa senangnya mereka travelling, dan dalam beberapa tahun belakangan mereka masih cukup kuat untuk mendaki tangga di gunung Bromo! I want to be like these grandma when I grow old! Their spirit, their sense of humor, and their passion of exploring are really inspiring J

Pulau Lengkuas dari berbagai sisi

Tepat setelah kami sampai di dasar mercusuar, hujan deras tiba. Perfect time! We’re about to have lunch anyway. Jadilah kami makan siang di samping Mercusuar dengan suasana hujan lebat. Sooo romantic! #eh.
Hujan pun reda tepat ketika kami selesai makan siang. The universe conspires to make this a perfect day! Kami memutuskan untuk stay di pulau ini lebih lama. Hal pertama yang kami lakukan adalah menuju pantai pasir putih yang teramat menggoda, untuk berfoto dan duduk-duduk lucu di pasir! J

Setelah puas bermain pasir, Pak Abu menunjukkan jalan ke sisi lain dari pulau Lengkuas: Batu-batu yang sangat banyak dan tersusun sedemikian rupa sehingga kita bisa berloncatan dari satu batu ke batu lain. Ketika berada di puncak batu yang sangat tinggi, kita merasa ingin berteriak: “I’m on the top of the wooooorrrld!”. Ahahahaha.

Wooohooo!

Langit mulai mendung ketika kami puas menjelajah pulau Lengkuas. Masih ada 2 pulau lagi dala itinerary: Pulau Babi dan Pulau Batu Berlayar. Menurut Pak Abu, lebih baik kami menuju Pulau Batu Berlayar, karena selain indah, pulau ini juga berada di jalur pulang kami. Ditakutkan jika kami harus memutar ke Pulau Babi, hujan deras akan turun dan menjadi cukup berbahaya untuk berlayar. Mengingat tragedy ombak besar waktu kami ke Derawan (yang ombaknya lebih tinggi dari kapal kami), maka kami pun ikhlas tidak ke Pulau Babi. Tapi pulau Batu Berlayar bagus koq!

Spot paling bagus untuk bergaya bak foto model

Lagi-lagi perfect timing. Hujan lebat turun tepat ketika kami menepi di darat. Curiga bahwa Pak Abu ini adalah pawang hujan. Karena hujan sangat lebat (dan tidak ada gunanya ke pantai ketika hujan lebat), maka kami memutuskan untuk pulang, beristirahat, dan packing, sambil menanti hujan reda.

Sekitar jam setengah 5, hujan pun reda dan pak Abu sudah siap di depan hotel. Kami menuju Tanjung Pendam untuk menanti sunset. Setelah 2 hari gagal sunset, akhirnya hari ini kami berhasil!

Akhirnya sunset juga

Ternyata karena display picture BBM kami yang cukup narsis, seorang teman yang kebetulan sedang ke Belitung dan hotelnya tinggal jalan kaki dari Tanjung Pendam pun menghubungi kami. Tak ayal (apasih tak ayal), kami pun bertemu dan mengadakan sebuah reuni kecil. Canda gurau sore itu ditemani dengan es campur dan empek-empek di warung dekat pantai. Rasanya tidak recommended. Tapi yang terpenting kan kebersamaan kita (ngeles).

Karena alangkah sayangnya meninggalkan Belitung tanpa mencicipi signature dish: kepiting isi, meski perut kenyang, kami tetap menyempatkan untuk pergi ke restoran Sari Laut untuk mencicipi kepiting isi yang ternyata kecil ini. Rasanya gurih dan enaaaaak. Jadi daging kepiting dikeluarkan dan dimasak dengan bumbu, kemudian dimasukkan kembali ke cangkang, dibalur terlur+tepung, dan digoreng. Di Belitung, makan kepiting tidak repot, semua praktis dan enak. Hahaha.


Malam ini ditutup dengan bertukar foto sembari membahas perjalanan kami 3 hari ini. Dengan ditemani martabak Hoklopan dan rintik hujan, kami menutup malam terakhir di Belitung.

"We don't even have to try, it's always a good time."
- Owl City -


*credits: Thanks to Mariska, Riri, dan Robby, you're a great travelling companion!

Komentar