Tanda Awal dan Terapi untuk Speech Delay pada Anak


Aruna sudah berusia 16 bulan, namun belum ada kata-kata yang jelas dari mulutnya. Hanya "aak" saat dia meminta makanan orang. Babbling juga sangat jarang. Sebelumnya aku tenang-tenang saja, sampai ada keluarga yang dokter bertanya tentang "diamnya" Aruna yang agak tidak biasa. Anaknya sangat aktif, tidak bisa duduk diam, maunya berjalan dan berlari terus, tapi tidak keluar suaranya.

Akhirnya aku menemukan video di Youtube yang memberikan pencerahan. Videonya terdiri dari 3 part, dan keseluruhan hampir 3 jam. Namun aku merasa sangat-sangat tercerahkan. Video ini ada di channel dr Tiwi, dengan pembicara dr Hardiono. Dr Hardiono merupakan DSA yang concern terhadap tumbuh kembang anak.



Video Dr Hardiono di Channel Dr Tiwi

Apakah Anak mengalami speech delay?
Untuk mempermudah deteksi dini speech delay pada anak, Dr Hardiono memberikan beberapa screening sederhana:
1. Apakah anda yakin 100% anak anda tidak ada gangguan pendengaran? Apakah anak Anda menengok jika dipanggil dari belakang?
2. Apa dia mengerti instruksi? Misalnya jika diminta membuang sampah, dia bisa membawa sampah ke tempat sampah.
3. Apa jika menginginkan sesuatu dia menunjuk? (Jika tidak menunjuk, namun malah menarik tangan orang tanpa melihat, itu termasuk red flag)
4. Apa bahasa tubuhnya bagus? Misalnya mengangguk, menggeleng, jika melihat sesuatu yang baru ekspresinya kagum, bisa meminta gendong dengan memajukan tangan, dst.
5. Apa anak tidak ada tanda autis? (Tidak ada kontak mata, hanya mau 1 permainan selama berbulan-bulan dan dimainkan tanpa variasi, tidak menengok jika dipanggil, dst.)
6. Apa ada masalah makan? Misal mengemut, belum bisa mengunyah nasi, langsung menelan, atau bahkan tidak mau makan sama sekali (snack pun tidak mau, hanya mau susu)
7. Apa ada masalah motorik? Apa keseimbangannya buruk?

Nah, jika tidak ada masalah-masalah tersebut diatas, bisa ditunggu sampai 2 tahun. Jadi kalau tepat 2 tahun kosakatanya masih sangat terbatas, atau pelafalan belum jelas, langsung bawa ke DSA yang concern kepada masalah tumbuh kembang. Seharusnya anak usia 2 tahun sudah bisa sekitar 200 kata. Terapi untuk kasus seperti ini lebih mudah, biasanya hanya butuh terapi wicara.

Namun jika ada masalah-masalah tersebut, apalagi lebih dari 1 masalah, harus segera dibawa ke DSA untuk diagnosa dan rencana terapi. Terapi untuk anak speech delay tidak hanya terapi wicara, namun juga Sensory Integrasi, Oromotor, Okupasi, dan lain sebagainya.

Latihan meniup bagus untuk menguatkan otot oromotor

Terapi pada Anak dengan Speech Delay
Semakin berat masalahnya, semakin dini terapi akan semakin baik. Menurut penelitian, terapi akan lebih efektif jika dilakukan secara sequential, bukan berbarengan. Nah, jika ternyata butuh lebih dari 1 terapi dan anak sudah agak besar (kemampuan otak tidak sebaik 2-3 tahun pertama), maka terapi bisa berlangsung lebih lama.

Dr Hardiono juga mengingatkan, jangan mau anak hanya dibilang speech delay. Kejar terus sampai tahu apa penyebab speech delaynya. Apakah oromotor? Sensorynya? Keseimbangan? Kurang stimulasi? Atau yang lain? Hal ini akan berpengaruh ke penentuan dan target terapi. Terapi harus jelas kurikulum dan targetnya dalam 3 bulan. Setelah 3 bulan, terapi harus dievaluasi.

Apakah terapi bisa dilakukan sendiri dirumah oleh orangtua? Tergantung diagnosa dokter dan terapis, penentuan terapi dan tidak harus dilakukan oleh profesional. Terapi bisa dilakukan dirumah apabila penyebab speech delay hanya karena kurang stimulasi (Misalnya karena terlalu banyak nonton tv tanpa ditemani sehingga interaksi anak sangat terbatas, pengasuh yang pendiam, dan lain sebagainya).

Contoh lainnya adalah apabila terdapat masalah di oromotor. namun ringan. Ini bisa dilatih sendiri dirumah dengan latihan penguatan otot sekitar mulut, antara lain dengan sering latihan meniup (peluit, tisu, bola pingpong, dst), latihan menyedot (dengan tingkat kesulitan bertahap, dari cairan yang encer kemudian berangsur-angsur meningkat kekentalannya, dari sedotan yang pendek kemudian beralih ke sedotan panjang dan melingkar, dst), dan pijat area sekitar mulut. Namun jika masalah oromotornya berat, misalnya benar-benar tidak mau makanan padat, tentu harus melalui pendapat profesional.

Mengenai masalah kurangnya stimulasi, dr Hardiono memberi contoh anak-anak di panti asuhan. Biasanya, setelah beberapa bulan tinggal bersama orangtua adopsi dan mendapat stimulasi yang baik, kemampuan berbicara anak akan meningkat pesat disertai dengan pelafalan yang jelas. Namun jika sudah distimulasi tetapi pelafalan belum jelas, masih butuh terapi wicara.

Video ini memberikan pencerahan pada saya tentang keraguan apakah Aruna speech delay. Alhamdulillah Aruna tidak memenuhi tanda-tanda diatas sehingga saya bisa menunggunya sampai usia 2 tahun (tentunya dengan terus distimulasi semaksimal mungkin). Semoga tetap sehat dan bahagia ya Aruna! :)

Komentar