Terkena Anemia saat Hamil



Meskipun saat hamil saya mudah lelah dan bibir terlihat pucat, tapi saya tidak memperdulikan itu karena sebelum hamil saya rutin donor darah 3 bulan sekali, dan belum pernah ditolak karena Anemia (jika ditolak pun, karena belum sarapan dan begadang sehingga tekanan darah saya rendah). Makanya agak terkejut ketika dokter menyatakan saya terkena Anemia. Hb normal adalah diatas 11 untuk wanita, dan Hb saya ketika medchek tahunan kantor 9,1.

Dokter kemudian menyarankan untuk memperbaiki pola makan. Antara lain dengan memakan sayuran berwarna hijau (seperti bayam), daging merah, hati, ampela, susu hamil, dan makanan-makanan lain yang banyak mengandung zat besi. Saya juga disarankan untuk tidak mengkonsumsi teh, karena teh dapat mengganggu penyerapan zat besi. Penyerapan akan lebih optimal jika dibarengi dengan Vitamin C, sehingga buah-buahan yang mengandung Vit C juga dianjurkan.

Saya menuruti saran dokter. Setiap siang, saya selalu habis 1 mangkuk bayam yang dibuat sayur bening. Daging pun menjadi menu wajib setiap siang dan malam, tak lupa terkadang hati dan ampela juga tersaji. Susu hamil, meski awalnya agak eneg, saya konsumsi tiap hari dalam keadaan dingin, jadi rasanya seperti minum milshake :) Jika makan diluar, saya selalu meminta es jeruk seperti minuman, dan saya hampir tidak pernah minum teh, meski jujur saja teh dalam kemasan botol sungguh menggoda :)


Harus di Drip

Saat kontrol dokter berikutnya, saya disarankan untuk tes lab terlebih dahulu, kemudian hasilnya dibahas saat kontrol. Karena saya merasa sudah makan dengan sangat-sangat baik, sayapun sangat percaya diri bahwa Hb saya akan naik. Ternyata.... jeng jeng, Hb saya justru turun ke angka 9. Dokter pun menyarankan untuk drip dengan Zat Besi untuk mempercepat kenaikan Hb. Saya dan suami bertanya tentang resiko Anemia saat hamil, diantaranya:

1. Resiko bayi lahir prematur
2. Resiko bayi kekurangan supply oksigen dan zat-zat yang diperlukan sehingga memiliki Berat Lahir Rendah
3. Pendarahan pada Ibu ketika melahirkan

Kebetulan saat kontrol ini berat badan janin cuma naik tipis dibanding sebelumnya, sehingga kami khawatir kalau dibiarkan Anemia ini bisa berbahaya. Saya juga merasa lebih cepat lelah padahal masih bekerja sampai beberapa bulan kedepan. Maka kami memutuskan untuk mengikuti saran dokter untuk melakukan drip zat besi. Oh ya, drip zat besi ini dicover BPJS, jadi semuanya (drip dan kamar untuk rawat inap) gratis.


2 hari kemudian, saya dan suami pergi ke UGD karena itu hari sabtu. Setelah mengurus administrasi (yang ternyata cukup ribet karena kami pakai BPJS) sekitar setengah jam, kami menunggu di kamar rawat inap sembari suster menyiapkan infus. Butuh waktu sekitar 6 jam untuk menghabiskan 1 kantong drip zat besi. Awal infus ditancapkan, saya merasa pusing dan sangat mual sampai harus memanggil suster kembali. Suster pun mengecilkan frekuensi drip, dan rasa mual itu berkurang. Tak lama kemudian, suster kembali datang dan membesarkan frekuensi drip, tapi saya sudah tidak mual dan pusing lagi :)

6 jam berlalu dengan cukup cepat, karena saya dan suami menghabiskannya dengan menonton serial yang telah kami download sebelumnya. Saya pun sempat tidur selama setengah jam. Orangtua dan mertua kami juga berkunjung dan membawakan makanan, sehingga saya dan suami tidak kesepian :) Secara total kegiatan drip ini memakan waktu sekitar 7,5 jam (termasuk administrasi dan segala waktu menunggu).

Suplemen Zat Besi

Kata dokter, menurut teori butuh sekitar 2 minggu untuk drip ini bekerja, jadi saya melakukan tes darah lagi 2 minggu kemudian. Ternyata oh ternyata, Hb hanya naik 0,2 menjadi 9,2! Jadi masih kurang banyak dari Hb 10 yang ditargetkan. Kata dokter, mungkin efeknya belum optimal. Disuruh menjaga makan dan minum suplemen Zat Besi, saya diberi Maltofer, 2x sehari. Semoga Hb terus naik sampai lahiran nanti :)



Komentar